REMBANG, republikajateng.com – Sinergitas antara aparat kepolisian dan para pemuka agama terus diperkuat demi merawat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Komitmen ini terlihat jelas dalam kegiatan Ngaji Kebangsaan yang dihadiri langsung oleh Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo bersama ulama kharismatik KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha).
Acara pembinaan rohani dan kebangsaan tersebut dipusatkan di Pondok Pesantren LP3iA Narukan, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, Sabtu (26/9/2026). Kegiatan ini berlangsung khidmat dengan dihadiri secara langsung oleh sekitar 700 peserta, yang terdiri dari 300 santri serta 400 personel Polri dari berbagai wilayah sekitar. Selain itu, puluhan ribu anggota kepolisian dari puluhan Polda dan ratusan Polres jajaran turut mengikuti jalannya acara secara daring.
Dalam sambutannya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan bahwa kehadiran ulama memiliki arti krusial bagi institusi kepolisian. Ulama diibaratkan sebagai lentera yang senantiasa menuntun dan memberikan pencerahan moral bagi para abdi negara dalam menjalankan tugas melindungi serta melayani masyarakat.
“Ulama adalah ibarat lentera yang menerangi dalam kegelapan, menunjukkan jalan, sekaligus memberikan doa agar Polri senantiasa diberikan perlindungan dalam menghadapi berbagai tantangan, serta tetap mampu menjaga kepercayaan masyarakat,” ungkap Kapolri.
Kapolri juga menambahkan bahwa persatuan bangsa harus terus dijaga di tengah keberagaman yang ada. Sinergi kokoh antara umara (pemerintah/aparat) dan ulama menjadi pilar utama pelindung seluruh rakyat Indonesia dari berbagai potensi perpecahan.
Sementara itu, Gus Baha dalam tausiyahnya menyampaikan pesan mendalam mengenai pentingnya landasan keimanan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurut pengasuh ponpes tersebut, kepatuhan terhadap aturan tidak semata-mata muncul karena adanya sanksi atau kehadiran aparat, melainkan kesadaran spiritual bahwa setiap tindakan manusia senantiasa berada dalam pengawasan Sang Pencipta.
“Orang yang bertakwa itu takut melakukan kesalahan bukan hanya karena ada polisi, tetapi karena sadar bahwa Allah selalu melihat apa yang dilakukan. Karena itu, keimanan harus melahirkan perilaku yang baik dalam kehidupan bermasyarakat,” tutur Gus Baha di hadapan para jamaah dan jajaran kepolisian.
Gus Baha juga mengibaratkan hubungan antara Polri dan masyarakat selayaknya ikatan antara orang tua dan anak, di mana proses membimbing dan mengarahkan harus selalu dilandasi dengan kesabaran serta kasih sayang demi terciptanya ketertiban umum.
Menanggapi kegiatan tersebut, Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Yuliyanto, menyatakan bahwa keteladanan yang ditunjukkan oleh sosok Gus Baha—yang dikenal luas karena kesederhanaan dan pembawaannya yang meneduhkan—mampu menjadi inspirasi berharga bagi seluruh personel kepolisian.
“Ngaji Kebangsaan ini menjadi ruang bagi anggota Polri untuk kembali mengingat hakikat pengabdian. Harapannya, nilai-nilai moral dan spiritual yang didapatkan hari ini dapat terwujud nyata dalam sikap humanis, rendah hati, serta ketulusan anggota saat melayani masyarakat di lapangan,” pungkas Kombes Yuliyanto.





